Upacara Pengobatan dan Upacara Menolak Bala

toraja culture
Disamping Upacara Rambu Tuka’ dan Upacara Rambu Solo’ sebagai Upacara berpasangan atau yang disebut Aluk Simuane Tallang, terdapat pula Upacara Khusus atau Upacara tersendiri dalam Aluk Todolo yaitu Upacara Pengobatan dan Upacara Menolak bala. Namun Upacara ini sebenarnya masih bisa digolongkan dalam Aluk Rambu Tuka’. Dikatakan Upacara khusus karena hanya dilakukan sewaktu waktu saja sesuai dengan keperluan dan kepentingan masyarakat saja yaitu berdasarkan :

1. UPACARA MASSALU-SALU

Upacara Massalu-salu, yaitu salah satu cara dalam Aluk Todolo jikalau seseorang selalu mendapat rintangan atau sering sakit maka beberapa Penghulu Aluk Todolo dipanggil dan duduk mengadakan pertukaran pendapat untuk mencari tau apa yang sedang menjadi halangan bagi keluarga itu yang kesemuanya didasarkan atas keyakinan bahwa dapat nyata dalam pembacaan doa mereka itu, yang kemudian dilakukan dalam darah yang dinamakan Dibiangan (semacam Loterei menggunakan alat yang Namanya Biang semacam Aur atau Bambu) yang terlebih dahulu dibacakan Mantra oleh Penghulu Aluk Todolo

Setiap Upacara Massalu-salu ini selamanya diikuti dengan suatu Hajatan atau janji akan melakukan satu Upacara untuk menebus segala kekeliruan yang pernah terjadi dalam keluarga itu.

2. UPACARA MARO atau MA'DAMPI

Upacara Maro atau Ma’dampi, yaitu suatu Upacara pengobatan menurut Aluk Todolo dimana orang yang sakit itu berada ditengah-tengah lingkaran manusia yang melantuntan lagu mantra yang dinamakan Gelong, dan dilakukan beberapa malam  secara terus menerus dengan dipimpin oleh To Ma’dampi ( orang yang pintar mengobati ) Namanya Pangngala Gelong dengan diikuti oleh beberapa orang.

Selama upacara ini sering dan hampir tiap malam terjadi orang-orang yang kerasukan kekuatan Jin dimana orang ini dapat berbuat sesuatu diluar kemampuannya seperti menikam diri sendiri menginjak ranjau dan lain lain yang dinamakan Karondonan yang menjadi perhatian masyarakat yang ikut menyaksikan jalannya Upacara Maro. Setelah orang yang diobati melalui Upacara Maro itu sembuh yang dinamakan To Di Maroi, maka diadakanlah sebuah acara yang dinamakan Pasa’ To Maro ( Pelaksanaan Pasar Penutupan Untuk Upacara Maro ) disuatu tempat terbuka atau lapangan luas dan semua orang akan berarak-arakkan dari Rumah atau Tongkonan tempat diadakannya Upacara Maro menuju ketempat diadakannya Pasa’ To Maro sambal bernyani dan menari sebagai tanda Pengobatan atau Upacara Maro akan berakhir dan pada kesempatan ini berates-ratus ayam dikurbankan sebagai sajian dan untuk dibagi bagikan kepada masyarakat yang hadir.

3. UPACARA MA'BUGI

Upacara Ma’Bugi yaitu suatu Upacara yang ditujukan untuk hajatan menolak bala yang dilakukan berantai dengan melakukan arakan berkeliling kampung sambal bernyanyi dan memohon kepada Sang Pemelihara agar melenyapkan segala kesusahan dan malapetaka yang akan mengancam atau sedang merajalela.

Upacara ini dilakukan terutama kalau seluruh Daerah diserang wabah penyakit atau diserang oleh suatu malapetaka, kelaparan atau kemarau yang Panjang, maka semu orang akan keluar mengadakan arak-arakan memuja Deata-Deata dengan nyanyian sambal berkeliling daerah atau kampung beberapa hari berturut-turut. Yang dipuja pada Upacara Ma’Bugi ini adalah Deata sebagai Sang Pemelihara semesta alam untuk memohon kepadanya agar menghalau seluru kesusahan dan wabah yang sedang mengancam dan merajalela.

Setelah mengadakan arakan keliling kampung dengan lagu-lagu dan doa-doa kepada Sang Pemelihara beberapa hari kemudian Upacara Ma’Bugi ditutup dan diakhiri dengan Upacara penutupan yang dinamakan Pasa’ Bugi’ dimana seluruh masyarakat yang berada di daerah itu atau dikampung itu hadir di suatu tempat yang terbuka yang luas untuk bersama-sama mengadakan pengucapan syukur dan doa kepada Sang Pemelihara akan adanya berkat yang akan dilimpahkan atas seluruh daerah dan masyarakat.

Saat pelaksanaan Pasa’ Bugi’ ini terjadi juga yang dinamakan Karondonan seperti yang terjadi pada Upacara Maro yaitu terjadinya atraksi orang-orang yang kerasukan kekuatan Jin yang mampu melakukan sesuatu diluar kemampuan nya. Pada Upacara Ma’Bugi ini banyak juga Kurban persembahan Ayam yang dikurbankan dikarenakan Kurban Babi tidak diperbolehkan untuk dikurbankan.

Menurut cerita, Upacara Ma’Bugi ini berawal saat Tondok Lepongan Bulan atau yang sekarang dikenal dengan nama Toraja, baru selesai diserbu oleh tentara Aru Palaka dan mengalami peperangan dibawah pimpinan satu ikatan yang dinamakan Topada Tindo To Misa’ Pangngimpi. Setelah selasainya perang yang sangat hebat itu dan lama maka Toraja dilanda kelaparan dan penyakit merajalela terutama pada saat itu wabah cacar yang mengakibatkan masyarakat Toraja saat itu menderita dalam segala hal. Maka diadakannya Kombongan ( Musyawarah ) oleh seluruh Penghulu Aluk Todolo dan diputuskan akan keluar Bersama-sama untuk memohong kepada Sang Pemelihara dengan mengadakan suatu Upacara yang dinamakan Bugi’ agar semua kesusahan yang dialami masyarakat dihilangkan oleh Deata-Deata Sang Pemelihara.

Itulah sebabnya dikatakan Upacara Ma’Bugi karana berawal dari kesusahan yang dialami masyarakat toraja saat itu dikarenakan kelaparan dan wabah penyakit yang bermula dari Perang Antara Masyarakat Toraja dibawah Pimpinan satu Ikatan Topada Tindo To Misa’ Pangngimpi melawan Orang2 Bugis dibawah Pimpinan Aru Palaka. Dan berawal dari situlah kenapa Upacara ini diberinama Upacara Ma'Bugi'.

ketiga Upacara Pengobatan dan Menolak bala diatas sebenarnya termasuk Aluk Rambu Tuka' sepenuhnya, akan tapi waktu pelaksanaannya tidak dilakukan hanya saat pagi hari saja melainkan dilakukan saat sore hari juga sama seperti waktu pelaksanaan Aluk Rambu Solo'. dan kurban persembahan yang dikurbankan hanyalah Ayam. Maka dari itu lah sehingga Upacara ini disebut Upacara Khusus atau tersendiri.

Post a Comment for "Upacara Pengobatan dan Upacara Menolak Bala"

Template Blogger Terbaik Rekomendasi